Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

HASRAT DUA WANITA

Membaca kisah 'Aku (tak) Ingin Menikah' dalam laman dakwatuna.com, tentang hasrat seorang akhwat yang sakit mendambakan suami seorang dokter.  Sehingga setiap kali akhwat itu sakit, suaminyalah yang mengobati, tidak perlu mengantri, mendengar keluh sakitnya, yang menyuntikkan jarumnya, menginfusnya, dll, tentunya dengan penuh rasa cinta karena pasiennya adalah istrinya sendiri.  Termasuk juga hasratnya untuk menikah atau bahkan tidak menikah sekalipun hanya semata-mata karena Allah SWT. Selesai membaca kisah itu, aku teringat kawanku, kisah tentang Istrinya juga, masih tentang hasrat, kejadian malam itu… ceritanya, Dalam tidur, tiba-tiba seperti ada benda berat menggelayut di punggung Suaminya, seperti menindih.  Antara sadar dan tidak, mata Suami sedikit dibuka.  Ada sebelah kaki melingkar di atas pinggang kanannya.  Masya Allah…. ternyata kaki istri, desisnya.  Dibiarkan saja terus menggelayut, sepertinya ada 'kekangenan' yang luar biasa, batin suami.  Sehingga

Ujian Nasional (UN)

Anakku yang pertama, Rifdah ‘Afaf ‘Ufairoh.   Hari ini, ketika aku menulis tentangnya, Iya sedang menjawab soal-soal ujian Ujian Nasional, hari ke-3 (UN).   Mata pelajaran yang diujikan IPA.   ‘Afaf mungkin mukanya sedang berkerut, wajahnya serius, berfikir keras untuk menjawab soa-soal yang diujikan. tahu sendirilah soal yang diujikan IPA.   Tetapi ada yang unik dari keseharian Afaf selama ujian.   Aku tidak pernah menjumpai dia serius belajar.   Maksud aku, Afaf ini santai saja menghadapi UN, seolah-olah tidak ada peristiwa besar, yaitu UN.   Seperti hari-hari biasa saja.   Belajar juga sih, tetapi tidak terlalu ngoyo.   Bahkan tiga hari ini aku perhatikan, lebih banyak bercanda dengan adik-adiknya. Sebagai orang tua, aku juga tidak selalu memaksa kepada Afaf untuk selalu belajar.   Tetapi seperlunya saja, bahkan aku cenderung membiarkan Afaf untuk menentukan sendiri kesehariannya.   Kadang dia belajar, tetapi kadang malah lebih banyak bermain.   Sekali-kali aku juga men

AKU MALU...

Aku malu, ketika di rumah Ibu di kampung.   Setiap pagi, selalu disediakan sarapan.   Kadang harus dibela-belain jalan kaki, keluar rumah membeli di warung.   Padahal sudah lemah badan Ibu, sementara Aku , anaknya, yang masih gagah, duduk manis menunggu sarapan datang. Tidak itu saja, setiap waktu makan pun, selalu disediakan lauk yang istimewa.   Sepertinya makan enak itu khusus untuk menyambut aku, pulang kampung. Dan itu yang aku rasakan setiap kali mudik.    Itulah hebatnya seorang Ibu.   Untuk urusan kecil, sarapan saja, Ibu berusaha memberi yang terbaik buat anaknya.   Apalagi untuk urusan yang besar ; melahirkan, membesarkan, mendidik.   Kita semua yakin pasti Ibu lebih bersungguh-sungguh buat semua itu.    Maka pantaslah hadist yang disampaikan Rasul SAW, bahwa kita berdosa walau sekedar mengucap ‘ah’ karena mengeluh ketika Ibu minta tolong.   Karena jasa seorang ibu yang teramat besar untuk anak-anaknya. Kejadian diatas, hanya sebagian keci