Postingan

Episode Cinta Lelaki Kecil

Oleh Abu Fathi Lelaki Kecil itu kembali bercerita, mengenang perjalanan cintanya yang sampai hari ini belum berakhir dan akan terus berlanjut sampai jiwanya menghadap pada Sang Pemilik Sejati, Allah SWT. Karena jauhnya perjalanan, maka Lelaki Kecil ini tidak jarang melakukan jeda sejenak, istirahat, mengevaluasi diri barangkali dalam setiap perjalanan cintanya masih banyak hal yang harus disempurnakan. ------------ Seperti yang diutarakan Lelaki Kecil itu, suatu hari, sedang berduaan saja dengan istrinya. Ketika semua buah hati mereka berdua telah terlelap dengan mimpinya. Malam yang hening dengan taburan hujan rintik-rintik, menambah suasana menjadi romantis untuk mengungkapkan semua perasaan terbaiknya pada kekasihnya. Ungkapan yang disertai dengan kecintaan tentunya. Lelaki Kecil itu memanggil istrinya dengan suara lembut, “Kekasihku…sepertinya sudah lama kita mengarungi perjalanan hidup ini. Ada nggak sesuatu yang belum Abi lakukan buat Umi ?” “Hmm…sepertinya ada,...

Lelaki Kecil itu Belajar Meniti Cinta

Oleh Abu Fathi Lelaki kecil itu bercerita, bahwa dia hanya orang biasa saja, dari keluarga yang sederhana, tetapi kelak ketika sudah menikah, dia tidak mau menjadi seorang suami yang biasa saja. Ia ingin menjadi suami pecinta, yang mencintai pasangannya karena Allah. Dan akan memberikan cinta terbaiknya pada pasangannya. Memang awalnya biasa saja, ketika Lelaki Kecil ini ingin menikah adalah karena hasrat ‘jiwa mudanya’ yang begitu menggelora. Untuk agar jiwa mudanya itu tidak dijatuhkan pada tempat yang salah, maka menikahlah dia. Dalam pernikahan yang sederhana, mulailah hari itu Lelaki Kecil itu menjadi seorang suami. Mulailah dia menjadi seorang pembelajar cinta. Sudah lebih dari 12 tahun Lelaki Kecil itu belajar meniti cinta, tetapi tetap saja dalam setiap perjalanan rumah tangga cintanya adalah pembelajaran. Ya, pembelajaran untuk saling cinta. Cinta kepada pasangannya, kekasihnya, istrinya tentunya. Sudah menjadi sunatullah…manusiawi, seorang pembelajar akan menem...

Ketika Ibuku Menangis…

Oleh Abu Fathi Ketika aku masih seusia Sekolah Dasar, aku mempunyai seorang nenek. Oh ya, nenekku ini adalah ibu dari ibuku. Nenekku seorang yang sangat sederhana, ia bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, bahkan berbahasa Indonesiapun tidak bisa. Ia hanya bisa berbahasa lokal yaitu sunda. Tetapi ada satu peristiwa yang sampai sekarang aku masih teringat ketika seusia itu. Sehingga peristiwa itu menginspirasi saya untuk menuliskannya di Hari Ibu ini, tanggal 22 Desember. Nenek saya hidup di salah satu kampung di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sedangkan kami hidup merantau jauh dari kampung nenek saya yaitu di Klaten, Jawa Tengah. Kami sering pulang kampung ke Ciamis ketika menjelang hari raya Idhul Fitri. Nah, ini yang akan aku ceritakan… Setelah Idhul Fitri kami bersiap untuk kembali pulang ke Klaten. Setiap kami akan berpisah, nenek selalu melepas kepergian kami dengan tangisan, sehingga nampak wajahnya basah dengan air mata. Peristiwa ini terus berulang, nenek ...

Maka… Tersenyumlah…

Oleh Abu Fathi Hidup ini pada dasarnya adalah kumpulan dari peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang terus berulang. Peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang berulang itulah yang sebenarnya akan menentukan warna pada kehidupan kita. Warna seperti apa yang kita inginkan?... tergantung bagaimana kita ‘memaknai’ setiap peristiwa yang terus berulang itu. Seringkali kita kurang ‘memaknai’ keberulangan itu, karena menganggap tidak ada apa-apa dalam peristiwa itu, atau karena hal-hal yang kecil saja, padahal tidak. ‘Memaknai’ setiap peristiwa itu adalah termasuk bagaimana kebiasaan-kebiasaan kita yang kita lalui setiap hari didalam berumah tangga. Banyak hal yang bisa kita lakukan, satu saja misalnya, menunjukkan muka yang ramah dihadapan istri dan anak-anak kita, muka yang selalu tersenyum. Sudahkah kita menjadi orang yang selalu tersenyum didepan mereka? Atau tersenyum setiap ketemu dengan Saudara-saudara kita, teman-teman di halaqoh, tetangga di rumah, atau teman-...

Mbak Irah Membawa Asa...

Mbak Irah telah kembali dari pulang kampungnya, banyak asa yang dia bawa, termasuk ingin menyelesaiakan prahara rumah tangga bersama suaminya. Dia mulai lagi dengan kebiasaan sehari-harinya, membantu nyuci gosok dirumah-rumah di komplek tempat saya tinggal, bahkan sampai 3 pintu di lakonin, demi hidup dan sekolah anaknya. Kembali hari itu dia datang ke rumah saya, membantu nyuci dan gosok, datang pukul 07.30 pagi dan nanti sekitar pukul 09.00 telah selesai. Kalau masih ada waktu luang atau ketika istri ada keperluan keluar rumah, kadang-kadang mbak Irah ikut membantu memasak, walaupun sebenarnya kegiatan memasak ini biasa dikerjakan oleh istri saya. Tetapi hari itu lain, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 lebih, mbak Irah belum beranjak pulang, walaupun sebenarnya tidak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikan pada istri saya, tetapi susah terucap dari mulut mbak Irah. Istri saya menangkap gelagat ini, segera saja istri mem...

Mbak Irah Pinjam Uang

Hari Senin, 8 November 2010, aku sedang berusaha merutinkan shoum sunah , walaupun tidak sahur. Aku mulai berkomitmen untuk melakukan shoum sunah Senin Kamis setiap pekannya. Begitu juga hari ini, walaupun sepertinya agak lunglai raga ini, Insya Allah aku tetap puasa. Karena untuk menjadikan kebiasaan baik itu menjadi karakter yang melekat pada seseorang, awalnya harus dipaksakan dulu. Nanti setelah itu berjalan mengalir saja. Ini pendapat Penulis lho… Dengan shoum mampu membatasi gejolak nafsu yang ada di raga ini, karena pada kondisi badan yang lunglai karena menahan rasa haus dan lapar, maka keinginan nafsu yang cenderung pada kemaksiatan dapat dicegah, minimal dibatasi. Salah satunya dengan shoum membatasi kita banyak ngomong, cenderung diam tapi berfikir, dengan mengurangi ngomong, artinya mengurangi salah ngomong. Semakin sedikit salah ngomong, mengurangi berbuat dosa. Seorang Rasulullah pun, selalu melakukan shoum Senin Kamis, bahkan kadang-kadang karena pagi hariny...

WIRA TANI, Toko Pertanian Yang Dekat Dengan Petani

( Tulisan ini pernah dimuat di koran digital "Warta Delanggu" ) Kota Delanggu adalah daerah yang sangat sejuk, berada diwilayah kaki perbukitan Gunung Merapi. Sepanjang mata memandang terhampar luas sawah, pertanian, dan ladang-ladang yang menghijau. Kalau Anda sering mendengar atau bahkan makan nasi dari beras “Rojo Lele Delanggu”, di kota yang sejuk inilah tanaman padi itu tumbuh subur. Pertanian menjadi lahan pekerjaan sebagian besar masyarakatnya. Delanggu adalah sebuah kota Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Klaten. Bersebelahan dengan Kota Delanggu, yang masih berada di Kabupaten Klaten juga, terdapat Kecamatan Karang Anom. Di sini juga masih banyak terdapat lahan pertanian, sehingga disetiap kanan kiri jalan banyak ditumbuhi tanaman padi, jagung, cabai, tomat, mentimun, yang sangat terawat dengan baik. Ya memang, Petani-petani itulah yang setiap hari merawat sawah-sawah dan ladang-ladang mereka. Kehidupan para petani di Karang Anom sangatlah se...