Postingan

Belajar dari Om Jono

(Kisah ini saya kirim ke Islamedia, Inspirasi, berharap di publish) Matanya memang tidak bisa melihat, tetapi tidak dengan hatinya. Dialah Om Jono, begitulah aku biasa memanggilnya. Hatinya menyala terang, bahkan sangat terang, Ia tidak mau menjadi peminta-minta, seperti orang-orang buta lainnya yang sering aku lihat di jalan-jalan atau angkutan umum. Tetapi memilih menjadi tukang pijat, pekerjaan yang lebih terhormat katanya, dibanding menjadi pengemis. Aku mengenal Om Jono setelah menikah dengan istriku, bahkan dengan keluarganya ikut hadir saat pernikahanku. Dulu, sewaktu almarhum ayah mertua masih hidup, menjadi tukang pijat langganan ayah mertuaku. Sekarang kebiasaan memijat itu, diteruskan ke menantunya, yaitu aku. Hampir sebulan sekali Ia datang ke rumah untuk memijat. Rasanya hati ini tidak tega, setiap kali Om Jono menelpon, mau datang ke rumah, walaupun kadang-kadang badanku sedang tidak pegal-pegal amat. Om Jono ini orangnya suka bercerita. Disela-sela dal...

Lelaki Muharrik Itu Menangis...

(Cerpen ini telah di muat di Islamedia, Sastra Islami) Lelaki di depanku itu tertunduk lesu, lemas, tatapan matanya kosong, sepertinya berat sekali beban yang menggelayuti pikirannya. Lelaki yang gagah, Lelaki yang biasa menghadapi kerasnya merintis usaha…kok tiba-tiba jadi cengeng gini….wah, ada apa ini? ……………… Adalah Andi, binaanku dalam halaqoh. Sudah sekitar lima tahun, aku berinteraksi dengannya. Selama itu pula aku tahu, Ia adalah ikhwan yang tangguh, muharrik, dan termasuk kader terbaik dalam halaqohku. Tidak seperti Murobbi-nya yang sok lucu, suka mbayol… Tetapi ternyata tidak terjadi pada kali ini, anomali Andi yang biasa ceria. Menampakkan wajah yang serius, seserius seorang pelajar SMU yang sedang ujian akhir. Walah… kok jadi ngomongin anak sekolah? Padahal beberapa saat sebelumnya, ketika masih ada beberapa ikhwah lainnya, ia terlihat seperti biasanya…ceria. Bukan iklan mobil Daihatsu Ceria lho… “Afwan ustadz…, ada yang perlu ana sampaikan…” “Ana minta w...

Ayahku Seorang Pekerja Keras

Aku tidak tahu sejak kapan ayahku ini merantau ke Pulau Jawa. Aku juga tidak tahu, ternyata bahwa aku bukan anak asli daerah ini, yang menjadi tempat tinggal keluargaku saat ini. Bahkan aku lebih fasih menggunakan bahasa jawa, dibanding bahasa asli dari daerah asalku, yaitu bahasa Sunda. Aku tahu kalau ayahku seorang perantau, setelah aku kira-kira berada di bangku sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mungkin karena waktu SMP itu sudah bisa berfikir kali ya…? Bahwa saat SMP itu, ketika sedang berkumpul dan bercanda dengan teman-teman, seringkali menyebut-nyebut nama bapaknya. Tetapi tidak untuk bermaksud mengolok-olok, hanya bercanda saja. “Hey…cah mbandungan…” begitu seringkali teman-teman di rumah atau disekolah menjuluki aku sebagai ‘cah mbandungan’. Aku juga tidak tahu sebabnya, kenapa disebut itu, mungkin karena asalku dari dataran Sunda, dan teman-teman menganggap bahwa semua yang datangnya dari Sunda itu Bandung, logat orang jawa jadi mbandung…, he…he…lucu juga ya. ...

Sakitnya Hati Seorang Pasien

Hati istrinya membuncah, sakit yang terperi, bagai tersirat sembilu, tetapi untungnya Ia bisa menahan emosi itu, sehingga tidak tampak wajahnya yang kesal. Bahkan sepertinya Ia wanita yang tegar, tidak cengeng, dan tidak mau menampakkan muka yang ‘kecewa’ di depan seorang dokter wanita yang sedang memeriksanya. Walaupun sebenarnnya bisa saja marah, bahkan haknya sebagai seorang pasien yang seharusnya mendapatkan pelayanan yang baik. Tetapi Ia tahan itu semua. Itulah perasaan istri temanku, yang Ia tumpahkan semua ‘kekesalannya’ pada suaminya, yang kebetulan tidak mendampingi saat istrinya memeriksakan kandungannya. Tetapi justru di depan Suaminyalah Ia tidak lagi menjadi wanita yang tegar. Sehingga sifat asli kewanitaanya keluar, Ia sesenggukan di depan suaminya. Menangis sepuasnya… Untungnya juga, istrinya mempunyai seorang suami yang tangguh. Sehingga suaminyalah yang selalu membesarkan hati istrinya untuk tetap bersabar. Karena, hanya dengan sabar dan terus berik...

Askes…Oh Akes…

Setelah sehari menginap di kamar perawatan kelas II, aku memtuskan untuk minta pindah ke kelas I, dan sukses, tidak lama menunggu, dapatlah kamar perawatan kelas I. Istriku harus dirawat dulu, tidak langsung dioperasi, karena penyakit asmanya sedang kambuh, kandungan oksigen dalam darahnya rendah, sehingga kalau harus dibius sebelum operasi akan berakibat buruk. Setelah dirawat selama tiga hari, oleh rujukan dokter, pagi ini istriku sudah bisa dioperasi. Tetapi tiba-tiba ada telepon masuk, diruang perawatan istriku, mencari aku. Aku berlari-lari meninggalkan ruangan tempat istriku sedang dirawat. Tergopoh-gopoh aku memasuki ruangan di salah satu rumah sakit negeri terbesar yang ada di kota Jakarta. Sudah ada seorang perempuan cantik menyambutku, yang aku tebak mungkin petugas adminstrasi. “Maaf…, benar ini bapak Agus…?” Tanya wanita cantik itu yang ternyata bernama Dina. “Ya…, benar saya Agus, saya suami ibu Husna.” “Begini pak Agus…ada yang mau saya sampaikan ke Bapak…” ...

Rumah Sakit yang ‘Komersil’

Hari itu Kamis tanggal 13 Januari 2011, ketika masih ada di kantor, saya mendapat telpon dari Kakak di kampung, yang menyampaikan berita bahwa, Bapak meninggal dunia. Maka saya harus pulang kampung saat itu juga. Setelah minta izin pada atasan di kantor, secepat kilat saya pacu motorku pulang ke rumah. Sesampai di rumah, sudah banyak Saudara berkumpul, ikut berduka cita. Segera istri saya menyiapkan semua perlengkapan. Agar masih bisa melihat jenazah Bapak, saya harus pulang dengan pesawat. Sementara istri dan anak-anak saya menggunakan mobil pribadi. Anak saya yang pertama, ‘Afaf, kelas 4 SD, merengek menangis, ngotot untuk minta ikut bersama istri saya pulang ke kampung, rumah neneknya. Padahal sebenarnya sudah 2 hari sebelumnya tidak masuk sekolah, karena badannya panas tinggi. Memang belum saya bawa ke dokter, karena rencananya kalau tiga hari panas badan anak saya belum turun juga, maka akan saya bawa ke dokter, sekaligus cek darahnya di laboratorium. Keesokan hari...

Cinta itu dirasakan, bukan dipikirkan…

Banyak orang mengatakan cinta itu sulit ditebak, Ia bagaikan kupu-kupu yang cantik, indah bulunya, terbang kesana kemari, mengelilingi kita. Memikat dan menarik hati kita untuk berusaha menangkapnya. Saat kita menginginkan cinta itu dalam genggaman, tetapi ia malah terbang menjauh. Namun saat kita tidak mengharapkan, cinta hadir tanpa diundang. Kita pun tidak bisa memaksa cinta sekehendak hati kita. Memang cinta adalah fenomena hati yang sulit dimengerti. Sebenarnya kita tidak harus perlu memeras otak lebih keras, untuk memahami cinta. Bahkan semakin keras kita memikirkan cinta, semakin lelah kita. Sebab cinta adalah untuk dirasakan, bukan dipikirkan. Yakinlah bahwa cinta yang kita inginkan, akan datang pada waktunya, pada saat yang tepat. Bukan berarti kita harus menunggu cinta itu datang? Cinta itu dirasakan, bukan dipikirkan… Pasangan suami istri misalnya, janganlah banyak berharap cinta itu akan datang dengan sendirinya dari pasangan-pasangan kita. Seorang suam...